KOTAK APA AJA BOLEEHH.....
Jumat, 07 Maret 2014
Tugas Mengenai Kreativitas
Tugas Mengenai Kreativitas:
I. Apa Makna Kreatifitas?
- Kemampuan untuk menciptakan dan mewujudkan realitas dari setiap angan-angan atau imajinasi yang dibangun dalam pikiran kita.
- Kemampuan mewujudkan imajinasi dalam pikiran seseorang untuk menjadi kenyataan.
II. Bagaimana Proses Kreativitas?
Dalam prosesnya, kreativitas mencakup pada empat tahapan, yakni:
1. Persiapan, merupakan proses mengumpulkan informasi, menganalisa dan mengeksplor solusi. Langkah ini mencakup persiapan akal untuk siap berfikir kreatif, Pelatihan formal, pelatihan saat kerja, pengalaman bekerja dan mengambil peluang belajar lainnya. Pelatihan ini memberikan dasar cara membangun kreatifitas dan inovasi.
2. Inkubasi, yang mana alam bawah sadar memerlukan waktu untuk merefleksi informasi yang dikumpulkan.
3. Penerangan, karena inspirasi tidak datang saat seseorang sedang memikirkan suatu masalah, melainkan ketika dia berada dalam keadaan yang rileks. fase dalam proses kreatif ini terjadi selama fase inkubasi ketika terobosan spontan menyebabkan seorang tersebut mendapatkan suatu pencerahan.
4. Verifikasi, bagi wirausahawan, menguji ide memastikan akurasi dan manfaatnya, dijalankan dengan melakukan percobaan, menjalankan simulasi, menguji pemasaran produk atau jasa, menetapkan program pemandu dalam skala kecil, membuat prototype dan banyak kegiatan lainnya yang dirancang untuk memverifikasi bahwa ide baru tersebut bisa diterapkan dengan berhasil dan praktis.
4.
III. Bagaimana Cara Menjadi Guru Kreatif?
1. Harus berfikir inovatif, Jiwa yang kreatif terlahir dari sebuah pemikiran guru yang selalu ingin berinovasi sehingga selalu bervariasi dalam memberikan materi pelajaran kepada anak didiknya.
2. Percaya diri, Tentu saja sifat percaya diri dan selalu ingin berkembang ada pada diri guru yang kreatif. Tidak mudah memang menjadi seorang guru yang kreatif, karena apa pun karya yang dia ciptakan harus kembali kepada anak didiknya. Keberhasilan seorang guru yang kreatif terletak pada kepuasan siswa setelah menerima materi pelajaran yang diberikan. Kalau pun anak didik merasa tidak suka atau tidak puas, guru yang kreatif seharusnya peka dalam hal ini. Langkah selanjutnya, dia akan mencoba mencari metode mengajar yang lain. Metode pengajaran yang sesuai dengan selera dan kemampuan anak didiknya. Tapi bagi saya, masalah siswa puas atau senang dengan metode pelajaran yang kita berikan adalah urusan belakangan. Yang terpenting adalah sikap pantang menyerah untuk selalu memberikan yang terbaik kepada anak-anak didiknya. Karena apa pun metode pengajaran yang diberikan, bila bervariasi, maka siswa pasti tidak akan bosan.
3. Materi pelajaran yang diberikan menjadi mudah dimengerti, Tidaklah mudah mentransfer ilmu dari seorang guru menuju ke anak didiknya. Namun itulah tantangan yang biasanya dihadapi oleh seorang guru. Namun seorang guru yang kreatif akan selalu mencoba berbagai cara agar anak didiknya mudah memahami materi pelajaran yang diberikan.
4. Terus belajar dan belajar, Tidak ada kata puas bagi seorang guru yang kreatif. Bukan tidak ada kata puas yang negative. Namun kata “tidak puas” bagi seorang guru yang kreatif adalah suatu semangat untuk terus mengembangkan diri demi kebaikan diri sendiri, anak didik, dan sekolah.
5. Cerdas dalam menemukan potensi/talenta anak didiknya, Karena tingkat kepekaan kepada anak didiknya yang tinggi, maka seorang guru yang kreatif biasanya mengenal kemampuan setiap anak didiknya. Kemampuan anak didiknya adalah bisa berupa bakat atau talenta. Dengan kepekaan yang dia miliki, seorang guru yang kreatif akan berusaha untuk memanfaatkan dan mengembangkan talenta yang dimiliki oleh anak didiknya, misalnya dengan memberikan kesempatan anak didiknya untuk tampil di acara-acara sekolah.
6. Kooperatif (bekerjasama), Guru yang kreatif menyadari akan kelemahannya juga sebagai manusia. Itulah kenapa seorang guru yang kreatif berusaha untuk bisa belajar dari orang lain. Dengan kata lain, guru yang kreatif harus bisa bekerjasam dengan sesama guru, anak didik, kepala sekolah, dan pihak-pihak yang berada di lingkungan sekolah. Hal ini juga berguna untuk menyatukan misi dan visi diri dengan misi dan visi sekolah dan mengurangi kesalahpahaman dan permasalahan yang mungkin terjadi.
7. Mengajar dengan cara yang menyenangkan, Seorang guru yang kreatif tidak ingin anak didiknya merasa bosan dan tertekan pada saat dia memberikan sebuah materi pelajaran kepada anak didiknya. Maka dia akan selalu mencari cara agar anak didiknya merasa nyaman dengan cara mengajar yang dia berikan.
resume hari ke 7
Training
hari ke 7
Di
isi oleh : Ibu Febi Robianti
“Guru Kreatif”
Hari ini kita membahas
mengenai guru kreatif, kami mengumpulkan barang yang akan kami jadikan sebagai
hasil dari kreatifitas kami masing-masing.
Tatap muka kali ini terkesan berbeda karena kami melakukan pertemuan
training melalui skype, suatu hal yang mgkin tidak pernah kami lakukan
sebelumnya. Meskipun bayak sekali
kendala, seringnya terputus bahkan sinyal yang sedikit, tak membuat kami putus
asa. Bahkan kami jd lebih penasaran dan bersemangat mendengarkan. Dan ini merupakan salah satu dari media
pembelajaran yang kreatif.
Pada hakikatnya
seseorang itu memiliki sifat kreatif, namun bagaimana mereka mampu mengembangkan kemempuan kratifnya
dengan baik. Kreatifitas tidak hanya
berupa talent, keterampilan, ataupun sesuatu yang orisinil, akan tetapi kreatif
merupakan sebuah ide atau gagasan yang
di ciptakan seseorang untuk selanjutnya di lakukan dengan nyata. Proses
mencapai kreatif mencakup pada inspirasi, inkubasi, penerangan, pengaktifan,
dan verifikasi.
Kemudian alat yang di
gunakan untuk mencapai sebuah kreatifitas yaitu, memikirkan banyak ide dengan ide-ide yang bervariasi dan tidak
biasa di lakukan orang kebanyakan sehingga bisa menjadi lebih baik bagi
kedepannya.
Lalu bagaimana menjadi guru yang
kreatif, yaitu bisa menginspirasi siswa untuk bisa menjadi kreatif, menunjukkan bagaimana untuk berpikir
kreatif, Mengajar untuk kreativitas, dan
kreatif dalam menghasilkan ide-ide yang dapat mendorong pembelajaran.
resume hari ke 6
Training
hari ke 6
Di isi
oleh : Bpk Isnan Santoso
“ TI ”
Sedemikian pesat dahsyatnya kemajuan
IT di Indonesia, tak luput dari peranan media social sebagai aplikasi yag bayak
di gemari oleh semua kalangan. Indonesia
sebagai pengguna facebook terbesar kedua di dunia, bahkan lebih besar dari
populasi di Kanada. Sedangkan Twitter berada pada peringkat ke 4. Menjadi
seorang guru bukan berarti kita tidak melek pada dunia teknologi, justru
dijaman serba tekno ini seorang guru disarankan untuk tidak gagap akan
teknologi informasi khususnya media social sebagai pemanfaatan dalam bidang
pendidikan.
Penggunaan ICT (Information
and Communication Technology) dalam proses pembelajaran disekolah sekarang ini
sudah tidak asing lagi,
dengan ICT maka pengajar dengan mudah mendapatkan bahan ajar tanpa harus
mencari buku yang tiap tahunnya selalu berganti. Karena ITC lebih up date di
bandingkan dengan buku, oleh sebab itu ITC ini bisa di gunakan sebagai media
pembelajaran di sekolah. Kontribusi ICT sebagai media pembelajaran ialah,
gambar-gambar dpt lebih mudah digunakan dalam proses belajar mengajar dan bisa
memperbaiki daya ingat para siswa, para pengajar dapat dengan mudah menjelaskan
instruksi-instruksi yang rumit dan memastikan siswanya paham, para
pengajar dpat membuat kelas interaktif dan membuat proses belajar
mengajar menjadi lebih menyenangkan.
Search Engine
Optimization (SEO) merupakan mesin pencari yang terdapat pada google, dengan
SEO kita akan mengetahui posisi peringkat atau urutan website sekolah kita melalui pencarian google.
Kemudian simulasi membuat
akun blog, menulis artikel dalam blog, memasukkan picture dan video dalam blog,
dll. Kemudian membuat akun Pinterest (sebuah media sosial (layanan
jejaring sosial) dengan konsep papan pin online (online pinboard) yang
memungkinkan penggunanya untuk mengumpulkan berbagai hal yang ia sukai dari
website manapun ke dalam Pinterest untuk dibagikan ke pengguna lainnya).
resume hari ke 5
Training
hari ke 5
Di isi
oleh : Ibu Neliana Puspitasari
“ Anak
Berkebutuhan Khusus”
ABK merupakan anak yang secara signifikan (bermakna)
mengalami kelainan/penyimpangan (fisik, mental/intelektual,
social, emosional) dalam proses pertumbuhan/
perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka
memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak ABK juga memiliki
beberapa karakter perbedaan dan persamaa sesuai dengan kondisi yang dimiliki si
anak tersebut, seperti anak autis yang
memiliki gangguan perkembangan anak yang
disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan
gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku., kemudian ad anak ADHD yang bisa di katakan sebagai
anak hyperaktif namun seringkali gerakannya tidak bisa terkontrol
dan bisa saja anak ini menyakiti org lain.
Ada beberapa factor mengapa anak bisa meiliki kelainanan khusus, yakni:
·
Biologis cacat lahir/bawaan,
keturunan, makanan yang di konsumsi saat hamil,
radiasi
teknologi, penyakit/virus, dll
·
Psikologis pola asuh orang tua yang
salah
·
Lingkungan polusi, teknologi, dll
Bentuknya pun berbeda beda baik fisik
maupun mental, ada yang tingkatannya ringan, sedang, dan berat, kemudian
fisiknya ada yang bentuk wajahnya sama
sehingga mudah untuk dikenali (down sindrom). Lalu bagaimana penanganan untuk
anak-anak berkebutuhan khusus ini yaitu melalui deteksi, diagnosa, intervensi,
dan psikoterapi (terapi perilaku dan terapi keluarga) seperti observasi,
wawancara mendalam dan psikotes.
resume hari ke 4
Training
hari ke 4
Di isi
oleh : Bpk Isnan Santoso dan Ibu Febi Robianti
“
Membangun Sekolah Alam Serta Pengembangan Potensi dan Bakat “
Dalam membangun sebuah sekolah harus
memiliki konsep pada bangunan fisik maupun mental, dari factor fisik bangunan
kita akan membuat konsep rancangan
bagaimana bentuk bangunan sekolah alam yang akan di buat apakah menggunakan material batu yang
permanen atau dengan menggunakan sumber daya alam mungkin bisa dengan keduanya
sehingga dapat meminimalisir sentuhan alam yang di pakai lalu membuat go green,
pembuatan ruang-ruang didalam sekolah (kelas, kantor, musolah, secretariat, dan
toilet) dengan menggunakan blue print.
Kemudian dari factor mental, dalam membangun sebuah sekolah di butuhkan
mental yang kuat, yakni dalam hal anggaran yang akan di keluarkan dalam
membangun sebuah sekolah alam, baik internal maupun eksternal. Sehingga pada
perencanaan anggaran kita tidak selamanya mengandalkan dari pihak instansi
terkait, sebuah yayasan setidaknya memiliki unit usaha dimana unit usaha ini bisa mendatangkan
relasi bisnis yang dapat membantu terlaksananya proyek, peningkatan SDM tenaga
pengajar, dll.
Kemudian simulasi membuat proposal
mimpi bersama untuk proyek sekolah alam, mulai dari pembuatan
profil sekolah, visi, misi, sasaran/ target, tenaga pengajar, denah sekolah, rancangan bangunan, dan anggaran (rencana anggaran pembangunan dan sumber dana)
Pukul 13.00 di lanjutkan bahasan
mengenai bakat atau syakillah dari tiap peserta calon guru, menjelaskan
peta yang menjadi kekuatan dan yang menjadi kelemahan. Sehingga para peserta
calon guru mengetahui letak potensi yang ada dalam dirinya masing-masing, agar
yang menjadi letak kekuatan bisa selalu terasah dan yang menjadi kelemahan agar
bisa selalu di siasati.
resume hari ke 3
Training hari ke 3
Oleh
Bapak Isnan Santoso
“Menjadi
Guru Sejati dan Berkarakter”
Mengawali
pembukaan materi pelatihan di hari yang ketiga kami disuguhi dengan bahasan
mengenai sekolah alam, yang mana sekolah ala mini bisa di artikan sebagai
belajar bersma alam, karena alam merupakan sebuah pengalaman.
Kemudian
kami di beri pembekalan bagaimana para
peserta bisa menjadi seorang guru sejati dan berkarakter di sekolah alam, yakni dari perguruan tinggi
sejati, menguasai bahasa ibu dengan mendidik penuh kasih sayang layaknya
seorang ibu, dan memahami Al Qur’an dan mengamalkannya. Tidak anya itu menjadi
seorang guru harus bisa menjadi teladan luar dan dalam baik di lingkungan
sekolah maupun diluar lingkungan sekolah, belajar ikhlas dalam bekerja tidak memikir
kan egonya sendiri tetapi bisa bekerja secara team, mampu menjadi dirinya
sendiri, kemudian menjadi fasilitator bagi siwanya tidak selalu menyuapi tetapi
hanya memfasilitasi sehingga siswa mampu berfikir sendiri, serta mencintai
anak-anak dan menjadi orang tua kedua bagi anak-anak didik.
Di
akhir kegiatan kami melakukan simulasi games, dimana dalam sebuah games
tersebut kami dilatih bagaimana kami bisa bekerja secara team tidak
mementingkan egonya sendiri-sendiri, menyingkirkan jauh persepsi-persepsi negative
antar anggota team sehingga apa yang kami lakukan dapat berjalan dengan baik
bersama-sama.
resume hari ke 2
Training hari ke 2
Materi di isi oleh Ibu Febi Robianti
“Open Mind Seorang Guru”
Banyak
dari seorang pendidik di sekolah masa
kini hanya mementing dirinya sendiri tanpa harus peduli dengan keadaan siswa
setelah proses belajar selesai, mereka hanya menyuruh dan sehabis itu tidak
lagi tahu menahu keadaan siswanya
selepas keluar dari kelas, banyak
larangan akan tetapi peraturan itu hanya berlaku ketika didalam sekolah
sedangkan ketika mereka keluar sekolah tetap saja seperti itu tidak berubah.
Mereka tidak lagi memandang mana yang tua dan mana yang muda. Jika seorang
pendidik paham akan nilai-nilai kebaikan menurut Qur’an dan hadist justru para
pendidik ini akan mengerti dan tidak mau jika anak tersebut kembali melaukakn
hal-hal yang memang bukan tidak boleh dilakukan. Maka guru seantiasa selalu
menjadi kamera tersembunyi dengan masuk menjadi penyusup dalam pergaulan mereka
sehingga kita tahu apa saja yang mereka lakukan saat berada di luar lingkup
sekolah.
Selepas
sekolah maka kita kembali bersekolah, yakni berguru sebelum mengajar dan tetap
belajar setelah mengajar. Bersekolah tidak identik dengan ber SD, SMP,SMA bhkan
perguruan tinggi dengan berbagai jenjang, tetapi bersekolah adalah berpesantren
kota, bersekolah guru, ber outbound menta leducation, ber one stop studio, ber
rumah kuliner, ber rumah busana, bre green lab, ber kios ramli, ber sekolah
bola, dsb. Dalam bersekolah pasti ada kurikulum yang di bangun, lalu ada akhlak
dengan menjadikan guru sebagai contoh dalam melakukan niali-nilai kebaikan didalam
maupun luar sekolah, kemudian bakat yang mana seorang guru harus tau bakat dan
potensi yang dimilikinya serta bakat anak didik, sehingga dapat memotivasi
dengan tujuan, gairah, dan harapan di masa yang akan datang.
Resume materi 1 part 2
Training part II di
hari pertama pembukaan
Materi 2 yang di isi
oleh Ibu Febi
Robianti
Flashback kepada perjalanan/sirah Nabawiyah dimana dalam
sejarah dakwahnya ada kaum Ansar dan kaum Muhairin. Dimana kaum Ansar bertindak
sebagai penolong dan kaum Muhajirin bertindak sebagai orang-orang yang
berhijrah/pengikut. Dimana ketika itu Nabi memulai dakwahya secara
sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, begitupula pada tahapan saat berdirinya
sekolah Jingga Life School ini, yang awalnya tidak nampak belum di kenal oleh
banyak orang dan kalangan, kini sedikit demi sedikit mulai nampak mulai dikenal
banyak masyarakat dan kalangan.
Sebuah sekolah atau lembaga tidak akan bisa berdiri
dengan kokoh sampai saat ini jika tidak ada penguat didalam tubuh lembaga itu
sendiri, dan yang menjadi penguat adalah para pendidik yang mamapu memberikan
sebuah komunitas kehidupan bagi siswa dan sekolah sehingga akan terus berdiri
kokoh.
Di sini para calon guru akan diberikan 3 materi sebagai
pembekalan, yaitu:
-
Kependidikan
Dalam
kependidikan ini terbagi lagi menjadi 3, yaitu:
-
Portofolio ->
sebagai alat evaluasi belajar atau kegiatan siswa
Portofolio
sendiri sudah lama di pakai oleh negara-negara luar, namun di Indonesia sendiri
portofolio baru masuk pada tahun 1995 itupun hanya sedikit sekolah yang memakai
sistem tersebut. Portofolio di gunakan sebagai alat untuk mengevaluasi belajar
sisiwa yang mana dilihat dari keefektifan belajar dikelas yang biasanya dalam
satu kelas bisa diisi 4-5 siswa. Sehingga pendidik bisa memantau perkembangan
belajar anak. Portofolio juga bisa disebut sebagai bundel/kumpulan dari hasil
karya. Karena yang bayak kita tahu sebagian besar orang tua hanya bisa komplain
ketika si anak mendapat nilai jelek, tanpa mereka tahu situasi belajar anak seperti
apa. Maka di Jingga memberlakukan sistem ini agar ketika orang tua bertanya
kita bisa memberikan bukti mengenai proses belajar si anak ketika berada di
sekolah/kelas.
Portofolio
terbagi menjadi 4 tahap, yaitu:
-
Anecdotal –>
merupakan catatan narasi terhadap perkembangan anak
-
Skala
sikap/likert
-
Kemampuan hasil
belajar
-
Foto kegiatan
Strategi
Pembelajaran
Contoh:
Rudi -> 4 Autis -> 6 peningkatan
Dodi ->
9 Cerdas luar biasa -> 9
tidak meningkat
Training : resume materi 1 part 1
Pelatihan Calon Guru
hari pertama
Materi 1 di isi oleh: Bapak Ari Mariadi
Materi
yang disampaikan sepintas mengenai awal berdirinya sekolah Alam Jingga yang
awalnya berupa sekolah rintisan dari beberapa orang yang memiliki visi serta
misi yang sama dalam membangun sebuah sarana pendidikan berkonsep alam.
Dalam
sekolah alam ini pendidik maupun siswa tidak di paksa untuk melakukan proses
pembelajaran yang mana siswa harus duduk rapi dalam belajar, mereka bebas
melakukan apapun yang sesuai dengan cara belajar mereka masing-masing dan
pendidik pun harus bisa mengerti dengan cara belajar mereka.
Sebagai
seorang pendidik kita di ajarkan bagaimana cara mendidik yag profesional dengan
cara yang menyenangkan tanpa memaksa siswa untuk mengikuti hal-hal yang
diinginkan oleh sang pendidik. Dan seorang pendidik juga harus memiliki pola
fikir yang kreatif dan imajinatif dengan bagaimana membuat suatu situasi
belajar mengajar menjadi menyenangkan sehingga tidak ada dinding pemisah antara
pendidik dan siswa, sehingga siswa tidak merasa diberatkan dan mereka mau
melakukannya tanpa rasa keterpaksaan.
Dalam
pengelolaan sekolah alam, Jingga memberlakukan peraturan dimana semua civitas
yang berada dalam lingkup sekolah bahu membahu dalam membangun ketertiban di
sekolah, seperti dalam hal kebersihan semua yang ada dalam lingkup sekolah
baersama-sama dalam menjaga kebersihan karena di jingga tidak ada bagian
kebersihan jadi semua siswa maupun pendidik harus ikut andil dalam menjaga
kebersihan. Dalam hal ini Jingga pun memiliki kedisiplinan bagi siswa yang
ketahuan membuang sampah sembarangan maka akan ada sangsi yang di berikan, jika
sampah itu tidak bertuan maka semua siswa kena denda materil yang dikenakan
tiap siswa. Dengan demikian mereka dapat berfikir akan pentingnya hidup bersih.
Menjadi
bagian dari sekolah Jingga para peserta calon guru pun tidak di tuntut atau
memaksakan diri untuk masuk kedalamnya. Jika merasa tidak cocok atau bukan
dunianya maka para calon guru di boleh kan untuk tetap lanjut atau berheti
tanpa keterikatan apapun. Karena dalam merekrut Jingga tidak melihat atau tidak
mencari yang memiliki skill dan IPK tinggi tetapi Jingga butuh seberapa besar
para calon guru ini larut atau berkontribusi dalam menanamkan nilai-nilai
kebaikan.
Langganan:
Komentar (Atom)
